Follow by Email

Jumat, 25 Maret 2011

filsafat












 

II
PEMBAHASAN
Filsafat Pra-Sokrates


Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimilikibangsaYunani.
        Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan.
        Pada masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM), yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga Phitagoras (572-500 SM) belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Jadi, dapat dikatakan bahwa agama alam bangsa Yunani masih dipengaruhi misteri yang membujuk pengikutnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi.



1. Thales (625 – 545  SM)
Riwayat Hidup
Tahun kelahiran Thales tidak ada kesepakatan, hanya ada perkiraan. ada yang mengatakan ia lahir tahun 640 dan meninggal tahun 550 SM, ada juga yang mengatakn, ia lahir tahun 625 dan meninggal tahun 545 SM. Disebutkan bahwa Thales meninggal tidak lama sebelum jatuhnya Sardis tahun 546 atau 545 SM. Thales diperkirakan hidup pada abad 6 SM.[1]
Dalam sejarah filsafat, Thales merupakan satu dari "Tujuh Orang Bijak" dizamannya bersama.
  • Bias dari Priene
  • Pittakos dari Mytillene
  • Saloon dari Athena
  • Kleoboulos dari Lindos
  • Khiloon dari Sparta
  • Periandros dari Korinthos.[2]
Pemikiran dan penemuan Thales
  • Benda-benda mempunyai banyak bentuk yang memiliki unsur dasar dan premier yang satu. elemen premier ini adalah air.jadi, ia berpendapat bahwa bahan dasar dari segala sesuatu adalah air, ia berkesimpulan demikian setelah mengamati  peran dominasi air terhadap kehidupan manusia. Ia juga mengamati kabut yang memberi kehidupan bagi segala sesuatu, bahkan panas juga berasal dari kelembaban. Thelas mungkin dipengaruhi juga oleh teologi-teologi kuno, dimana air merupakan obyek komando di kalangan dewa-dewi[3]
  • Segala macam benih mempunyai kodrat kelembaban, dan air merupakan asal dari hakekat benda-benda yang lembab.
  • Pada penguapan, air menjadi uap atau udara, sedangkan pada gejala pembekuan, jika proses itu terus berlangsung, maka air akan menjadi bumi.
  • Thales,sebagai ilmuwan praktis,berhasil menyusun sebuah almanak dan praktek menentukan arah bagi pelaut dengan berpedoman pada posisi binatang beruang kecil yang dikenal pada bangsa Phoenicia.
2. Anaximandros (611 – 545 SM)
Riwayat Hidup
Anaximandros merupakan seorang ilmuwan. Ia lima belas tahun lebih muda dari thales, tetapi meninggal dua tahun lebih dahulu. Sebagai filosof ia lebih besar dari pada gurunya. Ia ahli astronomi dan juga ahli bumi[4]
Pemikiran dan penemuan Anaximandros
  • Prinsip pertama dari segala benda adalah to apeiron (yang berarti substansi yang tidak terbatas) yang bersifat kekal dan tidak dimakan oleh usia.[5]
  • Bumi bukan berbentuk piringan, tapi silinder pendek.
  • Pada permulaannya bumi itu diliputi air semata-mata. Sebab itu makhluk yang pertama di atas bumi ialah hewan yang hidup di dalam air.[6]
  • Menurut theoprastus, anaximandros mampu membuat sebuah peta yang digunakan oleh pelaut milesia ke laut hitam[7]
 3. Anaximenes ( 588 – 524 SM )
Riwayat Hidup
Anaximenes merupakan filsuf ketiga dari Miletus. Tentang kelahiran dan kematiannya tidak ada kepastian, ada yang  mengatakan, dia lahir 588 dan meninggal tahun 524 SM,[8] ada juga yang mengatakan, ia lahir tahun 538 dan meninggal tahun 480 SM. Anaximenes lebih muda dari Anaximendros.
Pemikiran Anaximenes
  • Prinsip dasar (Urstoff) segala sesuat adalah udara. dia berkesimpulan demikian berdasarkan pada fakta bahwa manusia hanya dapat hidup kalu bernafas. Dia berkata,"sebagaimana halnya jiwa kita, yakni udara, mempersatukan kita, demikian juga nafas dan udara merangkul seluruh kehidupan."[9]
  •  Udara tidak dapat dibagi, tapi dapat kelihatan dalam proses kondensasi dan perenggangan. ketika udara merenggang, ia lebih panas dan cenderung terbakar menjadi api. sebaliknya, kalau terjadi kondensasi, ia menjadi lebih dingin  dan  menjadi keras. [10]
  • Bumi berbentuk datar yang melayang di udara seperti selembar daun
  • Pelangi berasal dari sinar matahari yang jatuh pada awan yang tebak sehingga tidak dapat menembusnya
4. Heraklitos (540 – 475 SM)
Riwayat Hidup
Heraklitos merupakan seorang bangsawan di Efesus, dan menurut Diogenes, hidup sekitar masa olimpiade ke-69. Ia seorang berperangai melankolik, suka menyendiri, soliter, dan memandang rendah kebanyakan orang, seperti orang ternama sebelumnya (Pythagoras, Xenophanes, dan lain-lain)
Pemikiran Heraklitos
  • Segala sesuatu mengalir / panta rei (all things are in a state of flux). Dengan kata lain, segala sesuatu berada dalam gerakan, tidak ada suatu yang tetap (all things are in motion, nothing steadforthy is), tetapi pendapatnya ini seperti mengulangi perkataan Pirandello bahwa tidak ada sesuatu yang stabil.[11]
  • Ajaran konsep kesatuan dalam keragaman dan perbedaan dalam kesatuan (unity in diversity, defference in unity). Dengan kata lain, kesatuan dari yang satu (unity of the one).
  • Hakikat kejadian alam bermula dari dua macam uap yang naik dari bumi ke atas,  yang satu jernih dan yang satu lagi keruh. Yang jernih menimbulkan api. Yang keruh menimbulkan yang basah[12]
5. Xenophanes (570 – 460 SM)
Riwayat Hidup
Xenophanes bukan seorang filsuf, tapi seorang pemikir kritis. Dia lahir di Kolophon, Asia Kecil. Ketika kota kelahirannya itu direbut oleh Persia tahun 545, ia pergi mengenbara ke mana-mana dan akhirnya sampai ke Elea. Nafkah hidupnya didapat dengan bernyanyi dan melagukan syair[13]
Pemikiran Xenophanes
Allah bersifat kekal dan tidak dilahirkan sehingga Allah tidak memiliki permulaan. Dia juga mengajarkan, bahwa tuhan itu tidak banyak, melainkan satu.
6. Permenides
Riwayat Hidup
Permenides lahir menjelang akhir abad 6 SM, sekitar tahun 451 – 449 SM.Ia merupakan pendiri dari sekolah Elea di Italia Selatan.Pada usia 65 tahun, ia bertukar pikiran dengan socrates muda, dia menulis dalam bentuk puisi.


Pemikiran Permenides
  • “yang ada itu ada “. Mengenai “yang ada” orang dapat mengemukakan dua pengandaian, “ yang ada” itu tidak ada, atau “yang ada” itu sekaligus ada dan tidak ada. Kedua pengandaian ini salah. Sebab mustahil bahwa “ yang ada” itu tidak ada, dan “ yang tidak ada” itu ada.[14]
  • Ada, Yang Satu, adalah terbatas menurut ruang
  • Perubahan dan gerak adalah ilusi. Indra mengatakan bahwa ada perubahan, tapi kebenaran tidak dicari pada indra melainkan pada akal dan pikiran.
7.  Protagoras
Riwayat Hidup
Protagoras berasal dari Adbera. Ia merupakan salah seorang tokoh di barisan sofis. Ia hidup dari tahun 481-411 s.M. Ia datang ke atena tidak diketahui benar. Yang orang tahu bahwa ajarannya masyhur pada tahun 444-443.
 Pemikiran Protagoras
·    Manusia menjadi ukuran bagi segala sesuatu, bagi segala hal yang ada dan yang tidak ada. Manusialah yang menentukan benar dan tidaknya sesuatu [15]
·    Negara didirikan oleh oleh manusia, bukan karena hukum alam

8. Gorgias
Riwayat Hidup
Gorgias berasal dari Leontinoi di Sisilia. Ia hidup dari tahun 483-375 s.M. Pada tahun 427 ia datang ke atena sebagai utusan kotanya. Iapun ahli pidato. Sebab itu tak heran, kalau ia mengutamakan mengajar orang pandai berpidato.[16]
Pemikiran Gorgias
  • Ada tiga proporsi yang diajukan oleh gorgias. Pertama tak ada sesuatunya, maksudnya realitas itu sebenarnya tidak ada. Sebab kalau ada sesuatunya, mestilah ia terjadi dan ada pula selama-lamanya. Kedua bila sesuatu itu ada, ia tidak akan dapat dikeyahui. Ini disebabkan oleh pengindraan itu sumber ilusi. Ketiga Sekalipun realitas itu dapat diketahui, ia tidak akan dapat kita beri tahukan kepada orang lain. [17]





[1] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat,Penerbit Kanisius:Yogyakarta, 1980 hal. 16
[2] Ibid
[3] www. google. com
[4] Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: Penerbit UI, 1986, hal. 9
[5] Ibid
[6] Ibid, hal.11
[7] www. google. com
[8] Hatta, Op.Cit, hal 12
[9] Hadiwidjono, Op. Cit, hal.18
[10] Hatta, Op.Cit, hal 12

[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Yunani, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009, hal. 49
[12] Hatta, Op.Cit, hal. 18
[13] Ibid, hal. 19
[14] Hadiwidjono, Op.Cit, hal. 24
[15] Ibid, hal.33
[16] Hatta, Op.Cit, hal.66
[17] Ahmad Tafsir, Op.Cit, hal. 52